Mumi Papua Werupak Elosak: Jejak Abadi dari Pegunungan yang Menyimpan Waktu

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Di lembah-lembah sunyi Pegunungan Papua, di antara kabut yang turun perlahan dan aroma tanah lembap, terdapat sosok yang diam membisu namun berbicara banyak tentang sejarah dan keyakinan masyarakatnya — Mumi Werupak Elosak. Ia bukan sekadar tubuh yang diawetkan, melainkan simbol penghormatan terhadap leluhur, keberanian, dan keabadian yang diyakini hidup berdampingan dengan alam.

Jika dibandingkan dengan tradisi mumi di belahan dunia lain, Papua memiliki pendekatan yang sangat khas. Di Mesir, mumi dibuat melalui proses kimiawi dan ritual keagamaan yang rumit, menggunakan natron untuk mengeringkan tubuh dan membungkusnya dengan kain linen — simbol perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Sementara di Peru, suku Inca menempatkan mumi dalam posisi duduk di gua-gua tinggi, sebagai penjaga spiritual yang mengawasi keturunan mereka.

Namun, Papua berbeda. Proses pengawetan dilakukan dengan asap dan api alami, tanpa bahan kimia, dan dilakukan di tengah kehidupan masyarakat. Mumi tidak disembunyikan di makam tertutup, melainkan disimpan di honai, rumah adat yang menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual. Di sana, Werupak Elosak tetap “hidup” — menjadi bagian dari percakapan, upacara, dan doa masyarakatnya.

Kisah tentang Mumi Werupak Elosak, simbol penghormatan, tradisi ini bukan sekadar pelestarian jasad, melainkan bentuk komunikasi spiritual antara yang hidup dan yang telah berpulang. Dalam diamnya, Werupak Elosak berbicara tentang nilai-nilai yang tak lekang oleh modernitas: penghormatan, keberanian, dan keabadian budaya.

Werupak Elosak adalah salah satu tokoh penting dari suku Dani di Lembah Baliem, Papua. Ia dikenal sebagai kepala suku yang gagah dan disegani pada masanya.

Setelah wafat, masyarakat tidak menguburkannya seperti tradisi umum, melainkan melakukan proses pengawetan tubuh dengan asap dan api selama berbulan-bulan. Tubuhnya dikeringkan di atas tungku, diolesi minyak dan abu, hingga akhirnya menjadi mumi yang tetap utuh selama ratusan tahun.

Proses ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan tertinggi kepada pemimpin yang dianggap masih menjaga dan melindungi kampungnya dari alam roh.

Mumi disimpan di rumah adat berbentuk bulat beratap jerami, disebut honai, dan hanya dikeluarkan pada upacara adat tertentu. Saat itu, masyarakat akan mengenakan pakaian tradisional, menari, dan menyanyikan lagu-lagu penghormatan yang diwariskan turun-temurun.