Gibran Sesalkan Rano Karno Lepas Tangan Soal Museum Ismail Marzuki

JAKARTA – AKSIKATA.COM – Sikap Rano Karno yang juga merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta sebagai seniman dianggap seperti lepas tangan atas pendirian museum Ismail Marzuki.
“Saya sebagai pribadi tidak menyalahkan Rano Karno, namun sebagai pejabat saya menyesalkan langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan pembentukan museum tersbut,” kata Chairil Gibran Ramadhan, sastrawan dan budayawan Betawi.
Barang-barang peninggalan Ismail Marzuki, seperti biola, akordion, teropet, dan beberapa barang peninggalan lainnya, sepertinya tidak diletakan sebagai barang bersejarah.
Bahkan ditimpali oleh Rachmi Aziah, yang merupakan anak satu-satunya Ismail Marzuki, bahkan dirinya miris ketika tahu bahwa hingga kini museum Ismail Marzuki belum berdiri.
Rachmi mengatakan bahwa pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, pihak PKJ TIM meminta barang-barang peninggalan Ismail Marzuki yang ada di rumah Rachmi untuk dibawa ke Cikini. Dijanjikan untuk keperluan pendirian Museum Ismail Marzuki.
Namun hingga tahun 2017 saat skenario itu selesai dikerjakan dalam draft keenam, museum tersebut tidak pernah ada. Barang-barangnya, menurut Rachmi, hanya diletakkan sembarangan tanpa perawatan.
“Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum bapak berdiri. Tolong bicarakan dengan Pak Anies, Bang.” Namun jangankan membicarakan pendiriannya, untuk melihat barang-barang itu saja CGR tidak diperkenankan oleh pengelola PKJ TIM,” kata Rachmi.
Pada kesempatan yang sama selain memberikan surat resmi atas hak penulisan skenario Ismail Marzuki kepada Gibran, Rachmi secara lisan juga meminta Gibranuntuk mengurus berdirinya Museum Ismail Marzuki di TIM.
Tidak cuma itu, ada rencana pula untuk merampungkan film Ismail Marzuki, padahal skenario sudah rampung dibuat sejak 2017, bahkan skenario film tersebut sudah memalui riset dan pendalaman yang dilakukan Gibran, selama 6 tahun.
“Jika meilhat sosok Rano yang berkecimpung di dunia perfilman, masa sih tidak ada niatan untuk menjadikan film Ismail Marzuki sebagai salah satu buah karya dia saat menjabat sebagai wakil gubernur yang nota bene nya juga sebagai seniman film,” kata Gibran
Sementara menyangkut hal itu, dalam kesempatan berbeda, tokoh Jaya Suprana juga menyarankan agar saya menemui Rano Karno dan dan membicarakan film tersebut.
Bahkan menurut artis Neno Warisman yang juga seniwati menyatakan sudah ada dana dari program di Kemenbud, yang bisa digunakan untuk pembuatan film tersebut.
“Sementara soal dana, saya hanya tahu bahwa saya sebatas bagian kreatif dan konsultan budaya, jadi saya kurang paham soal angka,” timpal Gibran.
Layak diketahui bahwa pertemuan antara Gibran, Jaya Suprana dan Neno Warisman berlangsung dalam event, pencanangan Mei sebagai bulan Ismail Marzuki.
Acara tersebut berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2026, bertempat di Auditorium Ki Nartosabdho, Kantor Pusat MURI/Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Timur, digelar pencanangan “Mei Bulan Ismail Marzuki”.
Acara yang digelar dalam bentuk konferensi pers ini menampilkan pembicara: Neno Warisman (Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan RI), Jaya Suprana (Pendiri MURI dan Jaya Suprana Institute), dan Chairil Gibran Ramadhan (Pendiri Betawi Institute).
Ismail Marzuki lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan meninggal pada 25 Mei 1958 di Kampung Tenabang, sepertinya layak dibuatkan film, apalagi berangkat dari perjuangannya.
Pada acara ini, ditampilkan sampul buku dari skenario yang dibukukan sejak 2020 namun tidak pernah dipublikasikan. Demi menjaga gagasannya tidak dicuri dan diakui oleh pihak lain seperti yang terjadi pada kasus uang kertas RI bernuansa Betawi pada nominal 2000 dan 100 ribu (diberi istilah “Duit Betawi” oleh CGR), ia akan mendaftarkannya ke Dirjen HAKI.
Menurut Gibran, skenario yang dikerjakannnya antara tahun 2011-2017 atas bantuan Enison Sinaro dan Laora Arkeman sebagai supervisor tersebut, akan diluncurkan berbarengan dengan biopic Ismail Marzuki. “Skenario ini pada 2018 mendapat restu dan hak penulisan dari Rachmi Aziah dan beliau juga turut menjadi narasumber penulisannya.” ungkap CGR.
Proyek biopic ini diharapkan mendapat dukungan dari Kemenbud RI sehingga perjalanan hidup Sang Komponis Pejuang yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dapat direalisasikan (sebelumnya pada 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, namanya diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki di Cikini). Direncanakan, film ini akan diproduksi oleh PPFN dan Padasan Pictures.
Acara yang terselenggara atas bantuan penuh Jaya Suprana yang merupakan pengagum Ismail Marzuki. Secara khusus, sebanyak 14 lagu karya Ismail Marzuki dimainkannya dalam album “Suita Marzukiana” (Virgo Music, 2014), yang 100% keuntungan penjualannya untuk Yayasan Bhakti Luhur, Cilincing. Di sisi lain, Jaya Suprana merupakan pengagum Babeh Ridwan Saidi, Budayawan dan Sejarawan Betawi, yang merupakan guru langsung dari CGR.
Lebih jauh, dalam acara tersebut, Neno menyampaikan pandangannya sekaligus komitmen pemerintah terhadap pengembangan kebudayaan nasional yang berbasis pada warisan tokoh-tokoh besar bangsa. “Peran Neno sangat krusial karena ia berada di titik temu antara gagasan kultural dan kebijakan negara.” ungkap Jaya Suprana.
Menurut CGR, Ismail Marzuki adalah komponis nasional satu-satunya yang berhasil mencatatkan dalam lagu setiap titik sejarah Revolusi Indonesia sebelum dan sesudah Kemerdekaan. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya adalah: Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka.
Lagu-lagu ini tidak hanya mampu menguatkan kecintaan pada Indonesia sebagai bentuk nasionalisme namun juga membuat kita menitikkan airmata untuk negeri yang kini berantakan. Sisi romantis Ismail Marzuki terlihat dalam Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, Payung Fantasi, dan lainnya.
Adapun lagu karyanya yang mencatat dengan baik sejarah sosial terkait Islam di Betawi adalah Selamat Hari Lebaran, yang abadi hingga hari ini.
Apalagi majalah Rolling Stone Indonesia, pada tahun 2008 menobatkan Ismail Marzuki sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis musik klasik Ananda Sukarlan bahkan menyiptakan beberapa concerto berdasarkan lagu-lagu Ismail Marzuki berjudul “Concertpo Marzukiana” untuk solo piano, biola, dan harpa.
Dengan demikian, pencanangan Mei Bulan Ismail Marzuki diharapkan dapat menjadi gerakan bersama dalam merawat ingatan kolektif bangsa melalui karya seni dan budaya.