Mapag Sri Sebuah Warisan Budaya Agraris

FOTO: HUMAS POLRI

CIREBON, AKSIAKATA.COM – Kabupaten Cirebon dikenal sebagai salah satu daerah yang masih menjaga tradisi agraris turun-temurun. Salah satunya adalah Mapag Sri, sebuah ritual yang digelar masyarakat Desa Karangkendal, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon setiap menjelang musim panen. Tradisi ini dipusatkan di depan balai desa dan menjadi momentum kebersamaan warga untuk menyambut hasil pertanian.

Mapag Sri tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga sarana refleksi bagi petani. Mereka diajak untuk mensyukuri hasil panen, sekaligus memperkuat ikatan sosial melalui kegiatan budaya. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk menjadi bagian utama, dengan cerita yang menyisipkan pesan moral, nilai agraris, serta edukasi sosial.

Kapolsek Kapetakan, AKP Rudiana, SH, MH, CPHR, menegaskan bahwa Mapag Sri merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Cirebon yang harus terus dijaga. “Tradisi ini bukan hanya bernilai budaya, tetapi juga mengandung semangat gotong royong dan rasa syukur atas hasil bumi,” ujarnya.

Mapag Sri sendiri telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai tradisi masyarakat agraris. Selain menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, ritual ini juga menjadi doa bersama agar panen yang akan datang membawa hasil yang baik bagi para petani. Dalam setiap rangkaian kegiatan, warga berkumpul dan berpartisipasi bersama sehingga memperkuat persatuan dan kekompakan yang menjadi ciri khas kehidupan pedesaan.

Menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Amin Mughni, Mapag Sri adalah bentuk nyata pelestarian budaya agraris yang masih terjaga kuat di wilayah pesisir. Tradisi ini mengandung nilai luhur berupa rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian, pembelajaran etika sosial, serta sopan santun bagi generasi muda. Selain itu, Mapag Sri juga menjadi simbol ketahanan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Ia menambahkan bahwa tradisi ini menjadi penyemangat bagi petani yang menghadapi tantangan seperti keterlambatan masa tanam dan serangan hama. Meski hasil panen tidak seoptimal biasanya, semangat warga tetap tinggi.

Di tengah arus modernisasi, pelestarian budaya seperti Mapag Sri dinilai penting untuk menjaga identitas masyarakat. Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga media pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, nilai kehidupan, dan kearifan lokal daerahnya.

Masyarakat Desa Karangkendal berharap Mapag Sri dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, dan spiritual. Kasi Humas Polres Cirebon Kota, AKP M. Aris Hermanto, mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi leluhur.

“Budaya lokal adalah identitas dan kekayaan yang sangat berharga. Mari kita lestarikan tradisi yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi penerus,” tegasnya.