Tragedi Serda Ahmad: Prajurit TNI AU Tewas Diduga Dianiaya Senior Gegara Mi Kuah

HUKUM & KRIMINAL599 Dilihat

Serda Ahmad Muzammul Farisa, prajurit TNI AU asal Magetan, diduga tewas akibat penganiayaan empat seniornya di asrama Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kasus yang bermula dari persoalan sepele salah membeli mi ini kini menjadi sorotan publik dan TNI AU berjanji mengusut tuntas.

 

JAKARTA, AKSIKATA.COM — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar TNI Angkatan Udara setelah kabar meninggalnya Serda Ahmad Muzammul Farisa, prajurit muda yang baru berdinas lebih dari satu tahun. Ahmad diduga menjadi korban penganiayaan empat seniornya di asrama Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Kamis dini hari, 10 September 2026.

Insiden bermula dari perintah sederhana: Ahmad diminta membeli mi goreng, namun yang dibawa justru mi kuah. Kesalahan kecil itu memicu kemarahan seniornya.

Menurut keterangan ayah korban, Toni Eko Prasetyo, penganiayaan terjadi dua kali, yakni pada Rabu malam (9/9) sekitar pukul 23.00 WIB dan berlanjut Kamis dini hari (10/9) sekitar pukul 03.00 WIB. Ahmad akhirnya tak mampu bertahan setelah mengalami hantaman benda tumpul di bagian vital tubuhnya.

Kabar duka yang diterima keluarga sempat simpang siur. Awalnya, Toni diberitahu bahwa anaknya meninggal karena kecelakaan. Namun, informasi dari rekan Ahmad menyebutkan bahwa ia tewas akibat penganiayaan senior.

Toni kemudian menerima foto kondisi jasad anaknya yang menunjukkan luka di dagu dan dada. “Mohon kepada Pak Presiden, Pak KSAU, juga Kadis Psikologi agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” ujar Toni di rumah duka, Magetan.

TNI AU melalui Kepala Dinas Penerangan Marsma I Nyoman Suadnyana menegaskan komitmen untuk mengusut kasus ini secara transparan. “TNI Angkatan Udara berkomitmen mengusut tuntas dugaan pembinaan berlebihan yang menyebabkan Serda AMF meninggal secara transparan. Fakta-fakta akan diungkap berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti,” ujarnya.

Polisi Militer TNI AU (Pomau) kini tengah memeriksa sejumlah personel dan mengumpulkan bukti. TNI AU menyampaikan belasungkawa mendalam dan memastikan pihak yang terbukti bersalah akan diproses sesuai hukum.

Kasus ini memicu desakan evaluasi dari berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai tragedi ini harus menjadi bahan introspeksi serius terhadap sistem pembinaan dan disiplin prajurit. “Disiplin dan ketegasan adalah bagian dari kehidupan militer, tetapi tidak boleh menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan,” tegasnya.

Di balik tragedi ini, Ahmad dikenal sebagai sosok religius dan berjiwa sosial. Kasubdis Kol Ariyanto dari Mabes TNI AU menyebut Ahmad selalu memulai salat subuh di asrama dan menjadi panutan bagi rekan-rekannya. Tetangga di Magetan juga mengenangnya sebagai pribadi yang sering membantu lingkungan.