Ada Karya Rumah Quinsa di Lomba Foto Sekolah Rakyat

LIFESTYLE472 Dilihat

DEPOK, AKSIKATA.COM – Sebagai salah seorang desiner yang sering terlibat ajang fashion show di Tanah Air, Rumah Quinsa akhirnya terpilih menjadi satu-satunya desiner yang ikut meramaikan gelar acara dalam Lomba dan Pameran Fotografi Nasional Sekolah Rakyat, yang dimulai pada 13–17 Juli 2026, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Adalah Oentari Handayani, yang menggawangi Rumah Quinsa menjelaskan, jika pihaknya akan menghadirkan 6 kostum grande tema etnik modifikasi dari berbagai daerah di lndonesia dan 7 kostum batik glamor etnik, dan akan dibawakan oleh model sinergi Rumah Quinsa yg masih merupakan siswi SD,SMP, dan SMA yang berprestasi di bidang entertain modeling fashion.
Bersama coach Alvin kenzo dan Mua dari Tazkia Wedding, Rumah Quinsa siyap tampil meramaikan acara yang spektakular ini.
“Aku menamakannya sebagai kostum Etnik Grande Modifikasi, dimana tingkat kesulitan pembuatannya adalah pada ide, observasi, juga pengadaan kreasi properti pernik-perniknya. Sementara untuk proses pembuatannya satu kostum saja dibutuhkan waktu tiga hari,” ungkap Oentari.
Diharapkan Oentari, rancangannya ini bisa mengedukasi ke peserta, bahwa kekayaan alam nusantara bisa diaplikasikan dalam fashion modeling yang dibawakan oleh anak-anak sekolah.
Sementara mengenai kegiatan lombanya sendiri, dijelaskan penyelenggara, bahwa ajang ini digelar Majalah Fotografi MATA, PT Basik, bekerja sama dengan Asosiasi Fotografer Indonesia (AFI).
Nama Arbain Rambey dan Hendra Lesmana yang merupakan Profesional Fotografer, dipilih menjadi juri dalam ajang sekala nasional ini.
Dalam kesempatan bincang wartawan, Arbain Rambey mengatakan lomba ini bukan sekadar mencari foto yang indah secara teknis, melainkan karya yang mampu menghadirkan cerita dan emosi.
“Foto yang baik bukan hanya indah secara visual, tetapi juga mampu bercerita. Kami ingin menemukan karya yang jujur, kuat, dan mampu menggambarkan semangat belajar, perjuangan, serta harapan yang tumbuh di Sekolah Rakyat,” kata Arbain.
Fotografer senior itu menambahkan, penilaian akan lebih menitikberatkan pada kekuatan cerita, orisinalitas, dan dampak visual daripada sekadar aspek teknis.
“Melalui seragam, aktivitas belajar, hingga interaksi yang terekam dalam foto, kami ingin menunjukkan spirit anak-anak Indonesia untuk terus menuntut ilmu. Tidak ada keterbatasan yang dapat menghalangi mereka meraih cita-cita,” ujarnya.
Sementara itu, fotografer profesional Hendra Lesmana mengajak peserta menghadirkan karya yang menyentuh sisi kemanusiaan.
“Setiap sudut Sekolah Rakyat memiliki cerita. Jangan hanya mengejar foto yang indah, tetapi tangkap emosi, interaksi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang lahir dari proses belajar mengajar. Foto terbaik adalah foto yang mampu membuat orang ikut merasakan cerita di balik gambar,” ujar Hendra.
Ia menambahkan, pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga tentang perjuangan, harapan, dan masa depan. Karena itu, setiap karya diharapkan mampu menjadi pesan yang menginspirasi masyarakat.
Sedangkan Ketua Panitia Fredy Kamto mengakui waktu pelaksanaan lomba terbilang singkat. Meski demikian, pihaknya optimistis antusiasme peserta akan tinggi.
“Dari pembukaan hingga batas akhir pengumpulan karya memang hanya lima hari. Namun, melalui jaringan Asosiasi Fotografer Indonesia yang memiliki sekitar 800 anggota di berbagai daerah, kami optimistis akan lahir karya-karya terbaik,” ujar Fredy.
Untuk memberikan kesempatan yang sama kepada peserta dari seluruh Indonesia, panitia juga menerapkan kebijakan khusus terkait objek pemotretan.
“Bagi daerah yang belum memiliki Sekolah Rakyat, peserta diperbolehkan memotret aktivitas di sekolah negeri atau sekolah umum lainnya. Yang ingin kami angkat adalah semangat pendidikan, bukan semata-mata bangunan sekolahnya,” kata Fredy.
Kompetisi ini mempertandingkan empat kategori, yakni Foto Jurnalistik, Foto Human Interest, Foto Esai, dan Foto Kreatif. Seluruh karya akan dinilai berdasarkan kesesuaian tema, kekuatan cerita, orisinalitas, nilai jurnalistik, komposisi, teknik fotografi, serta dampak visual.
Lomba ini tidak dipungut biaya pendaftaran dan terbuka bagi seluruh Warga Negara Indonesia. Peserta dapat mengirimkan maksimal lima karya foto, kecuali kategori foto esai yang terdiri atas lima hingga sepuluh foto dalam satu rangkaian cerita.
Selain memperebutkan Juara I, II, dan III di setiap kategori, panitia juga akan memilih 100 karya terbaik untuk dipamerkan dalam Pameran Fotografi Nasional “Sekolah Rakyat” di Galeri Cipta I, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran tersebut diharapkan menjadi ruang apresiasi bagi fotografer sekaligus menghadirkan pengalaman visual mengenai wajah pendidikan Indonesia.
Pendaftaran dibuka pada 13–17 Juli 2026, dengan batas akhir pengiriman karya 17 Juli 2026 pukul 17.00 WIB. Pengumuman pemenang dijadwalkan pada 19 Juli 2026.
Melalui lomba ini, penyelenggara berharap lahir karya-karya fotografi yang mampu merekam semangat belajar, dedikasi para guru, serta harapan anak-anak Indonesia. Setiap foto diharapkan menjadi arsip visual yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga merekam perjalanan perubahan pendidikan menuju Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan.