JAKARTA, AKSIKATA.COM – Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama Alzheimer’s Disease International (ADI) meluncurkan kampanye global dalam rangka Bulan Alzheimer Sedunia dengan fokus pada pentingnya diagnosis dini bagi orang dengan demensia.
Kampanye ini diharapkan menjangkau 75 persen populasi dunia yang hidup dengan demensia tanpa pernah mendapatkan diagnosis formal.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah orang dengan demensia diperkirakan mencapai 78 juta pada akhir dekade ini dan hampir berlipat dua menjadi 139 juta pada pertengahan abad.
Namun, hingga 90 persen penderita di negara berpenghasilan rendah dan menengah masih belum terdiagnosis. Hal ini menimbulkan tantangan besar dalam penanganan dan perawatan.
Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, PhD, neurolog sekaligus Rektor Unika Atma Jaya, menegaskan bahwa demensia bukanlah bagian normal dari proses penuaan.
“Demensia merupakan manifestasi dari perubahan atau penyakit pada otak. Pemeriksaan lebih awal memberi kesempatan untuk mengenali penyebab, menilai kesehatan otak, mengendalikan faktor risiko vaskular seperti hipertensi dan diabetes, serta melakukan intervensi yang dapat membantu mempertahankan fungsi otak selama mungkin,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kita tidak harus menunggu sampai memori banyak yang hilang untuk mulai menjaga otak. Semakin dini kita mengenali perubahan, semakin banyak yang dapat kita lakukan.”
Kampanye bertajuk “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters” dengan tagar #DementiaDiagnosisMatters, #AlzheimerDiagnosisMatters, #EarlyDiagnosisMatters, dan #PentingnyaDeteksiDiniDemensia, mendorong masyarakat untuk lebih terbuka membicarakan gejala awal demensia serta mencari informasi dan dukungan yang dapat mengarah pada diagnosis dini.
Imelda Theresia, Plt Direktur Eksekutif ALZI, menekankan bahwa diagnosis dini bukanlah vonis, melainkan pintu masuk untuk bertindak.
“Semakin awal perubahan dikenali, semakin banyak kesempatan bagi orang dengan demensia dan keluarganya untuk merencanakan perawatan, menjaga kemandirian, tetap aktif sesuai kemampuan dan minat, serta mendapatkan dukungan yang tepat. Dengan dukungan dan ruang yang inklusif, ODD dapat terus berkarya, bersosialisasi, bahkan menjadi advokat yang menyuarakan pengalamannya,” jelasnya.
Selain itu, kemajuan teknologi biomarker, termasuk tes darah terbaru, memungkinkan identifikasi patologi Alzheimer sebelum gejala tampak jelas. Pengobatan baru yang menyasar tahap awal penyakit juga mulai bermunculan, sehingga diagnosis dini menjadi semakin krusial.
dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp. ALK(K), spesialis kedokteran olahraga sekaligus CEO Klinik Utama Eminence, menambahkan bahwa aktivitas fisik memiliki manfaat besar bagi otak, terutama bila dimulai sejak tahap gangguan kognitif ringan.
“Banyak keluarga takut mencari diagnosis karena mengira setelahnya tidak ada yang bisa dilakukan. Justru sebaliknya, semakin dini kita tahu, semakin besar yang bisa kita kerjakan. Gerak yang tepat tetap menjaga kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup, baik bagi orang dengan demensia maupun pendampingnya,” ujarnya.
Melani Budianta, seorang advokat demensia, menekankan perlunya sistem dukungan holistik yang melibatkan aspek medis, psiko-sosial, dan kultural.
“Pendekatan medis farmakologis perlu dilengkapi dengan penguatan dari aspek psiko-sosial dan kultural. Untuk itu dibutuhkan kerja kolaborasi transdisiplin, menggandeng subjek yang mengalami demensia dan keluarganya. Di sinilah ALZI dan ADI berperan menjadi ruang interaksi, rumah terbuka, dan lumbung pengetahuan bersama,” katanya.
Dengan kampanye ini, ALZI dan ADI berharap stigma dan kesalahpahaman tentang demensia dapat dikurangi, sehingga lebih banyak orang berani mencari diagnosis dini dan mendapatkan akses terhadap perawatan serta dukungan yang mereka butuhkan.










