Media Asuransi Gelar Chief Financial Officer Award 2026 dan Top Digital Financial Award 2026

BISNIS & FINANCE199 Dilihat

JAKARTA, AKSI KATA. COM –
Media Asuransi pada hari Selasa,(6/10) menyelenggarakan ajang Chief Financial Officer (CFO) Award dan  Top Digital Finance Award (TDFA) 2026.
Untuk CFO kali ini merupakan penyelenggaraan yang pertama, sedangkan TDFA  merupakan yang ke empat kalinya.

S  Edi Santosa Plt. Direktur
PT Media Asuransi Indonesia mengungkapkan, penetrasi internet Indonesia yang baik dan didukung jaringan 5G, mendongkrak percepatan internet. Pendorong utamanya adalah generasi muda yang melek teknologi. ” Hal-hal itu mendorong Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam digitalisasi sektor keuangan,” ujarnya.

Pada tahun ini, ajang ajang CFO Award dan TDFA Award mengusung  tema  “From Data to Understanding-Customer Insight, Hyper-Personalization, and the Rise of Human-Centered Digital Finance”. Tema tersebut bertujuan untuk memberikan pengakuan dan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan dalam industri ini yang telah berhasil melakukan transformasi digital yang memberi kontribusi signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi melalui inovasi digital.

” Ada yang berubah dalam perkembangan adopsi teknologi di jasa keuangan. Jika sebelumnya menekankan pada akses, kini menjadi ke memberikan pengalaman. Selain itu, kini AI telah menjadi standar baru, bukan lagi pembeda. Sedang yang terakhir adalah personalisasi, yakni bagaimana perusahaan menerjemahkan data pengguna menjadi layanan yang terasa ‘dibuat untuk saya’ bagi penggunanya,” paparnya.
Edi Santosa menambahkan,
industri asuransi menghadapi tantangan yang berat pada tahun 2025. Di tahun lalu perekonomian Indonesia tumbuh 5,11%. industri asuransi jiwa maupun asuransi umum masih mencatatkan kinerja keuangan yang cukup baik.
Industri asuransi jiwa mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp10 triliun, didorong dari peningkatan signifikan hasil investasi yang disertai dengan penurunan klaim.
Industri asuransi jiwa menunjukkan kondisi kesehatan keuangan yang kuat dengan rasio RBC sebesar 491%. Namun, dari sisi operasional, combined ratio tercatat sebesar 107% dengan rasio klaim mencapai 81%. Meski demikian, RKI masih di atas 100% yang menandakan investasi masih mampu menutup kewajiban teknis.

Di sisi lain, industri asuransi umum mencatat laba setelah pajak sebesar Rp16 triliun, dipicu oleh peningkatan pendapatan underwriting dan hasil investasi. Industri asuransi umum juga menunjukkan kondisi kesehatan keuangan yang kuat dan stabil dengan rasio RBC sebesar 387%.
Dari sisi operasional, kinerja industri asuransi umum tergolong baik dengan combined ratio sebesar 71%, menunjukkan bahwa biaya klaim dan operasional masih jauh di bawah pendapatan premi.
Namun demikian, rasio klaim menunjukkan tren kenaikan yaitu sebesar 45% pada akhir 2025, terutama didorong dari lini asuransi kredit.  Sementara itu, RKI masih berada di atas 100%.

” Dalam kondisi seperti itu, Media Asuransi melihat bahwa ada beberapa perusahaan asuransi jiwa, asuransi umum, dan reasuransi, baik konvensional maupun syariah yang memiliki kinerja bagus, melebihi para pesaingnya,” ujarnya.

Ia menambahkan,  salah satu pihak yang berperan menjaga kinerja perusahaan tetap bagus adalah direktur keuangan (Dirkeu) atau Chief Financial Officer (CFO).
Satu hal yang menarik, di industri kita ternyata tidak semua perusahaan memiliki secara khusus CFO atau Direktur Keuangan. Dalam perjalanan CFO Award ini, kami menemukan ada beberapa perusahaan yang fungsi keuangan, akuntansi, dan investasi berada di bawah direktorat berbeda, misalnya di bawah direktur operasional. Jadi ada beberapa COO yang mendapat CFO Award.